Posts

Showing posts from 2016

Rahmat Aku mendahului Takdir Aku

Rahmat Aku mendahului Takdir Aku Rahmat Allah TAALA sangatlah luas. Keluasan Rahmat NYA itu tidak dapat dihitung dan tidak dapat dibanyangi oleh mata dan akal fikiran kita yang lemah ini. Berbaiksangka terhadap ALLAh TAALA. Jangan berhenti berharap segala sesuatu hanya daripada NYA. Ini antara pesanan yang kerap di ulangi oleh syeikh Abdullah Jahaf di dalam majlis pengajian bimbingan beliau. ******* Telah khabarkan satu kisah yang berlaku pada zaman Nabi Allah Musa a.s. kisah berkenaan seorang wanita yang terlalu menginginkan seorang anak sebagai cahaya permata hatimya. Namun Allah Taala menakdirkan wanita tersebut seorang yang mandul. Oleh kerana wanita ini sangat berkeinginan dengan kehadiran seorang anak di dalam hidupnya, maka pergilah dia bertemu Nabi Musa a.s. di dalam perjalanan, hatinya penuh dengan harapan. Setelah bersua dengan Nabi Musa a.s, berkatalah wanita tersebut. “wahai Nabi allah Musa. Sesungguhnya kamu adalah orang yang paling hampir dengan allah...

kisah inspirasi

Terima Kasih Ayah “yang ayah wariskan kepada anak-anak bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan, yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah.”-Will Rogers-                 Setahuku, botol acar besar itu selalu ada dilantai samping lemari di kamar orang tuaku. Sebelum tidur, ayah selalu mengosoongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan kedalam botol itu. Bunyi gemercingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok dilantai depan botol itu, mengagumi keeping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.                 Jika isinya sudah penuh, ayah akan menuangkan koin-koin itu kemeja dapur, m...

Kerana Cinta

Menari di Tengah Hujan                 Pagi itu, sangat sibuk. Sekitar jam 9;30, seorang peria berusia 70-an dating untuk memuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk. Mungkin dia baru dapat tangani setidaknya 1 jam lagi.                 Sewaktu menungg, pria tua itu Nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasian. Jadi,ketika sedang luang, aku sempat memeriksa lukanya, dan tampaknya cukup baik dan kering, tingal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukan sendiri.                 Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hing...